Showing posts with label WRITING. Show all posts
Showing posts with label WRITING. Show all posts

4.27.2011

AKU INGIN HIDUP SERIBU TAHUN LAGI

Chairil Anwar, 26 Juli 1922 - 28 April 1949.


AKU

Kalau sampai waktuku
'ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

------

Apa yang menjadi doanya untuk hidup seribu tahun lagi benar-benar terwujud. Walau raga kembali dikandung bumi, namun jiwanya tetap menjadi sebuah inspirasi yang terus hidup.

Dilahirkan di Medan, Chairil Anwar merupakan anak tunggal. Ayahnya bernama Toeloes, mantan bupati Kabupaten Indragiri, Riau, Sedangkan ibunya Saleha, berasal dari Situjuh, Limapuluh Kota. Chairil masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.
Semasa kecil di Medan, Chairil sangat dekat dengan neneknya. Keakraban ini begitu memberi kesan kepada hidup Chairil.
Dalam hidupnya yang amat jarang berduka, salah satu kepedihan terhebat adalah saat neneknya meninggal dunia. Chairil melukiskan kedukaan itu dalam sajak yang luar biasa pedih:
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta

Chairil masuk sekolah Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi waktu masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus.

Pada usia sembilan belas tahun, setelah perceraian orang-tuanya, Chairil pindah dengan ibunya ke Jakarta di mana dia berkenalan dengan dunia sastra.
Meskipun pendidikannya tak selesai, Chairil menguasai bahasa Inggris, bahasa Belanda dan bahasa Jerman, dan dia mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional ternama, seperti:Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron. Penulis-penulis ini sangat memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung memengaruhi puisi tatanan kesusasteraan Indonesia.

Chairil seorang "penggila" buku yang rakus. Ia melahap karya-karya W.H. Auden, Steinbeck, Ernest Hemingway, Andre Gide, Marie Rilke, Nitsche, H. Marsman, Edgar du Peroon, J. Slauerhoff, dan banyak lagi.
Menurut H.B. Jassin, kalau sudah membaca buku, maka buku itu akan dibacanya dari malam sampai menjelang pagi.

Bersama temannya, Asrul Sani, Chairil sering mencuri buku di toko buku yang dulu bernama Kolf dan van Dorp di daerah Juanda, saat ini telah berubah menjadi kantor Astra.

Suatu kali mereka melihat buku Friedrich Nietzsche, Also Sprach Zarathustra.
`Wah, itu buku mutlak harus dibaca,' kata Chairil pada Asrul Sani. `Kau perhatikan orang itu, aku mau mengantongi Nietzsche ini.' Chairil memakai celana komprang dengan dua saku lebar, cukup besar untuk menelan buku itu."
Buku-buku filsafat, termasuk buku Nietzsche tadi, diletakkan di antara buku-buku agama.
Kebetulan buku Nietzsche ukuran dan warna sampulnya yang hitam persis betul dengan kitab Injil.
"Sementara Chairil mengantongi buku, saya memperhatikan pelayan toko," kata Asrul.
"Hati saya deg-degan setengah mati.”
Setelah buku berpindah tempat, kami lantas keluar dari toko dengan tenang. Tapi sampai di luar tiba-tiba Chairil terkejut, `Kok ini? Wah, salah ambil aku!' sambil tangannya terus membolak-balik buku. Rupanya Chairil salah mengambil Injil. Kami kecewa sekali."
Begitulah tulisan tentang Chairi Anwar, yang dicuplik dari buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan, karya Arief Budiman.

Lain cerita ia pernah mentraktir temannya makan dengan menggunakan uang hasil menjual jaket temannya itu yang beberapa waktu lalu ia pinjam.

Chairil pemuda yang urakan, selalu kekurangan uang, tidak memiliki pekerjaan tetap, penyakitan, tingkahnya menjengkelkan. Walaupun begitu dia bisa menjadi contoh yang baik dalam ketotalannya berkesenian.
Berbeda dengan Sanusi Pane, Amir Hamzah, Rustam Effendi, dan M. Yamin hanya menjadikan kegiatan menulis puisi sebagai kegiatan sampingan, di samping tugas keseharian mereka sebagai redaktur sebuah surat kabar, Chairil menjalani hidup semata-mata hanya untuk puisi.

Teman dekat Chairil Anwar semasa kecil, Sjamsulridwan, pernah menulis di majalah Mimbar Indonesia, edisi Maret-April 1966. Katanya, salah satu sikap Chairil yang menonjol sejak kecil adalah sifatnya yang pantang kalah.

"Keinginan, hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap menyala-nyala, dan boleh dikatakan tidak pernah diam."
Di luar rumah, Chairil tumbuh menjadi pemuda yang lincah dan penuh percaya diri. Di samping karena kedudukan ayahnya, otak yang tajam dan cerdas serta sifatnya yang terbuka, tidak mengenal takut atau malu-malu, membuat ia dikenal dan menjadi kesayangan banyak pihak, baik di kalangan guru maupun di antara teman-temannya.

Di kalangan gadis-gadis, Chairil juga disukai karena wajahnya yang tampan dan menyerupai orang indo. Meskipun dia angkuh dan selalu merasa hebat, dia selalu mudah sekali berkenalan dengan siapa saja, tanpa pernah membedakan status sosial, status ekonomi, dan intelektualitas.
Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil.
Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya. Ia menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Sayangnya rumah tangga mereka tidak bertahan lama. Akhir 1948 mereka bercerai, dan putri tunggal mereka, Evawani Alissa, dibesarkan Hapsah.

Tanggal 28 April 1949, setelah sempat diopname selama lima hari di CBZ (sekarang RSCM) karena penyakit TBC yang dideritanya, Chairil mengembuskan nafas terakhir pada usianya yang hampir ke 27.
Ia meninggalkan warisan karya yang tidak begitu banyak, yaitu 70 puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4 prosa terjemahan. Kepada Evawani, putrinya yang masih berumur satu tahun, Chairil bahkan hanya mewariskan sebuah radio kecil, berbentuk kotak warna hitam, bermerek Philips. Dan seperti memenuhi pesan profetik dalam salah satu bait puisinya: "di karet, di karet sampai juga/deru angin", Chairil dimakamkan di Pemakaman Karet pada hari berikutnya.
( dari berbagai sumber)

3.17.2011

SATU SETENGAH

Short Story By Endra Rintovani


*Satu setengah dalam aljabar mungkin berarti 1 + 1/2 atau jumlah bilangan pecahan bisa juga hasil pembulatan. Sedangkan ibu-ibu di pasar dan para pedagang memaklumi satu setengah untuk ukuran berat, jumlah atau sejumlah uang. Dan mungkin saja untuk hitungan apoteker ya takaran dosis obat resep dari dokter  untuk pasien. - Tuan Muda dari Bukit Menoreh.*
Rayap mungkin masih tidur ketika derap tangga kayu di pagi kering itu menderit. Sepasang mata enggan terbuka penuh ketika si empunya menuju ruang makan. Pelan mengambil nasi secukupnya dan duduk. Sebentar kemudian berteriak memanggil-manggil. Si terpanggil buru-buru menapaki tangga yang sama, dan bergegas menghampisi si pemanggil. Si terpanggil nampak segar dan bercahaya-hasil mandi selama setengah jam lebih. Tak lama mereka larut dalam suasana sarapan sederhana.

****
Diam menjauh dan pamit undur diri ketika si pemanggil memulai percakapan tentang sebuah bilangan.
” Jadi apakah kau wahai Si Terpanggil, masih menyimpannya? Dan sudah menjadi berapa? ” ujar Si Pemanggil sambil mengambil pisang di tengah meja makan.
“Aku pikir sudah keberapa kalinya pertanyaan itu kau tanyakan, ini repetisi atau memang kehabisan pertanyaan?” jawab Si Terpanggil seenaknya sambil beranjak ke wastafel mencuci tangan.
“Eeeh, sudah berani ya sekarang?? ya, aku cuma ingin memastikan dan daridulu kau tak pernah memulai percakapan, aku tahu benar.” kata Si Pemanggil.
“Hmm..haha, aku tak cukup pandai membuka pagi dengan percakapan dan aku tahu kau lelah.” jawab Si Terpanggil.
“Jadi? bisakah saya mendapat jawaban? ” tanya Si Pemanggil menelan sekerat pisang terakhirnya.
“Masih, Satu setengah skala lima dan Conditional. Ada lagi? ” jawab Si Terpanggil menyodorkan air putih hangat untuk Si Pemanggil.
“Hmm…okee, aku mau mandi dan bekerja lagi. Sini cium sekali” Si Pemanggil membawa gelasnya dan menghampiri Si Terpanggil.
Si Terpanggil mencium kening Si Pemanggil. Dan Si Pemanggil menuju ke lantai atas. Pagi resmi menjadi siang. Jam berdentang, meneriakkan pukul 9 lebih satu setengah.
****
Jumlah sering kita artikan sebagai penyeragaman atas adanya logika ketika perasaan tak pernah bisa menghitung dan dihitung secara kasat mata. Perasaan adalah sumbu tanpa angka-angka, timbangan tanpa bandul-bandul, skala tanpa perbandingan, bentuk bukan geometri, dan kadang-kadang menjadi pengkhianat diantara benar dan salah.

3.16.2011

JAKARTA'S ART SCENE

Text by Fadhly Muhammad, Photography by Dilla Awaluddin


On a sweltry afternoon, I had a little conversation with a Jakarta based Art Event Initiator, Joko Ono. An eccentric man, constantly changed his name as he met new people. It's a delight to actually meet Joko Ono in person. He has been very much participating in lots of Jakarta's Art Scene. Art Event Initiator is practically an enterprise that create art exhibition. As we lightened our cigarettes, conversation started.

"What makes Art Event Initiator different than other medias?"
"We are people behind the curtain who support the artists to express and to get accepted by public. On most cases, media don't stay behind the curtain, they expect an exposure. Common people would easily misinterpret those overexposed media as a "community". And this creates unnecessary gap between the media and the viewers. That's why I choose to stay as an anonymous media called Art Event Initiator."

Way back then, Joko Ono had no intention to create Art Event Initiator. He used to teach art at university. His students showed unique and raw materials that inspire Mr. Ono to make an art exhibition. Their visions were mixed with art principles, and voila, a successful art exhibition on campus. At that moment he realized that art and society merged as one.

"It's like music, most people consume music, why it can't be applied on drawings. I try to expand the definition of drawings so it could be consumable for common people."

"Speaking of common people, how do you see art scene and Jakarta's public?"
"Too exclusive, the subject and the audience don't branch out."

According to Joko Ono, common people feel alienated on most art exhibition events. It's too easy for people to be labelled as an artist in Jakarta. With an effortless arrogance and connection most people could be an artist. Not to mention that art communities are very much separatist. It'd be better if we could abolish the gap in art society and create a fusing-art-community that could be consumed for all types of viewers. Joko Ono believed that the artists idealism and public's curiosity are two important variables that should conjoin. When an artwork could hatched an empowerment or inspiration, that automatically gives a value to that artwork. That's how art plays its part.

"What's the biggest obstruction that you face as media?"
"It's hard to be media, we have to promote the essence of the artists' visions and make it consumable for common people. And fund has an important role on an exhibition. On most cases, sponsors could distort an event's message so the communication isn't pure as it was planned."

Joko Ono notice that the urban society had been very opened and enthusiast towards the growth of the artists and their idealism, "They call it lifestyle."

"But common people aren't opened yet, they have rights to consume art just as much as the urban society. So I really want to tell that art doesn't have to be exclusive."
"Art exhibition could trigger public's awareness and understanding to life. It'd be orgasmic if public could participate on the growth of Indonesia's culture."

Joko Ono and I realized that if public's awareness is still minimum, the artists won't have enough feedback to be productive. This kind of paradigm shifts our artists to play saved and be a mediocre, in order to get public's acceptance. However the artists still need to be aware that they have to make their works applicable for public. There's mutualism energy between public and the artists in order to expand the definition of culture in Indonesia.

"Last question, how do you see Jakarta's Art Scene in 10 years?"
"The execution would be very much advanced. Unfortunately public's appreciation is very dry. Let's just say that internet came to Indonesia in the 90's, there are so many internet companies. But until this point, people don't maximize the potential of the internet. Most people use it for games, chats, and other light activities. So it's very clear that public don't understand the core of advancement, yet. Fingers crossed, I am hoping that 10 years from now public and art would blend and make a mutualism connection as a part of our culture.

2.16.2011

SAJAK - SAJAK KAREN PRIYANKA

Garis Garis Koordinat Kartesius

Garis kita berjalan melewati absis-absis yang sama,
Tapi lihat, ordinat kita begitu jauh
Kita tidak bersinggungan, tidak berhimpitan
Garisku sampai kapanpun tidak akan memotong garismu di titik manapun

Kemungkinan terbesar cuma ada saat kamu kembali pada ayahmu
Salah satu ordinat titik pada garismu bergeser menuju garisku
Aku mencoba menggeser ordinat titik pada garisku supaya garis kita bisa bersinggungan
Tapi ordinat titik pada garismu harus kembali keatas
Sayangnya ordinatku tak mampu naik lebih tinggi

Sudah lama aku hanya bisa lihat absis titik pada garismu
Ordinatnya sebegitu jauhnya

Ah kabarnya garismu dijaring oleh garis lain
Garis yang titik absis maupun ordinatnya jauh dariku, jauh darimu
Bagaimana mungkin? Benarkah hanya karena garisnya pernah melintang lewat ordinat titik garismu?


Penggemar Rahasia

Akhirnya datanglah malam yang kutunggu-tunggu
Malam ini ia akan datang
Ia, priaku yang gagah, berjubah merah, dan haus darah

Sudah dua minggu nyamuk-nyamuk pilihannya berpatroli,
mengendusi darah siapakah yang paling lezat

Jam telah berdentang sepuluh kali
Aku telah siap dengan kulit tercantikku
Sebelum salah seorang penghuni rumah ini meletakkanku di halaman rumah,
kupandangi lagi tanggal hari ini,
Tanggal 13, Hari Jumat

Pukul 01.03, kudengar kepakan kelelawar
Kulihat ia menjelma menjadi Drakula di hadapanku
Itu priaku!
Kurapikan kulitku sambil memberinya senyuman
Ia bergidik menghirup aromaku, wajahnya marah,
Ia tak kuat, Ia harus pergi atau mati sesak nafas
Ah priaku, andai aku bukan sesiung bawang putih


Penghapus

Seorang pelukis menggores sketsa padaku
dengan pensil tumpul yang empuk, nyaman

Perlahan aku melihat kepala, wajah, lalu rambut;
Badan, dua tangan, lalu dua kaki
Ah, Manusia. Laki-laki

Begitu yakinnya ia dengan lukisannya
Sampai-sampai Penghapus absen

3 bulan kemudian... Kulihat warna cerah
4 bulan... Kuhirup aroma bunga
5 bulan... Tetes air? Baru kali ini aku bertemu air tanpa kuas
6 bulan... Deras tetes air. Hujankah?
8 bulan... Ah, Penghapus, lama tak jumpa. Tapi aku masih basah
Dikala basah aku dihapus
Dihapus sampai koyak

2.09.2011

FOTOGRAFI SEBAGAI SENI DOKUMENTER

Text By: Haviez Maulana

Girl Worker in a Carolina Cotton Mill
Lewis W. Hine (1874-1940)
Sejak ditemukannya kamera sebagai media perekam visual yang paling nyata pada bidang datar dua dimensi, kekuatan fotografi dipercaya sebagai media yang tanpa syarat sebagai pencerminan kembali realitas. Teknologi yang dihasilkan dari fotografi memang terlahirkan untuk memburu objektivitas, karena kemampuannya dengan tingkat presisi yang tinggi dalam menggambarkan kembali realitas visual. Dengan kemampuaanya tersebut, kehadiran fotografi telah merevolusi suatu tradisi pendokumentasian yang selama ini dilakukan manusia.
Kesadaran manusia dalam melakukan pendokumentasian terjadi secara bersamaan ketika upaya dan kesadaran manusia dalam menghasilkan kebudayaan. Hal ini sudah ada sejak zaman batu ribuan tahun lalu. Ketika manusia pemburu akan menirukan binatang buruannya dalam sebuah tari ritual, sementara itu juru dongeng mengisahkan keperkasaan para pemburu, kemudian kisah-kisah itu baru mereka abadikan pada dinding-dinding goa. Sejak saat itu pula pelukis mulai merajai dunia pendokumentasian, yang dipercaya selama ribuan tahun. Seiring dengan perkembangannya, yang ditempuh dengan kurun waktu yang lama, manusia baru mampu menemukan simbol-simbol yang dapat digunakan untuk mendokumentasikan gagasan ataupun pemikiran melalui tulisan. 
Pada mulanya gambar-gambar purba di dalam goa tidak memang dimaksudkan sebagai catatan sejarah. Gambar-gambar tersebut hanya untuk maksud-maksud tertentu yang mengandung unsur ritual, misalkan untuk mempertegas mantera perburuan. Namun pada akhirnya, gambar-gambar tersebut menjadi sebuah upaya dokumentasi sebagai salah satu menyampaikan kisah yang pernah terjadi pada suatu waktu. Inilah yang kemudian menjadi dasar pencatatan sejarah, yang selanjutnya kisah-kisah sejarah dari zaman ke zaman disampaikan dalam berbagai cara, mulai dari tradisi lisan, tarian; gamabar di atas batu, kayu, prasasti, lemabaran lontar, kain, kitab-kitab; dan lebih lanjut lagi dengan menggunakan kamera foto,film, video, dan yang paling terakhir ini adalah digital. (Bachtiar, 2008:2).
Merunut pemaparan di atas, dapat dikatakan dokumentasi dalam arti sempit yaitu dokumentasi visual berarti metode yang menunjukkan kejadian berdasarkan kenyataan, berupa catatan yang ditulis atau dicetak, misalnya lukisan. Lukisan merupakan sebuah bentuk dari catatan sejarah, sisi lain yang tumbuh dari upaya itu adalah cara perupaan. Tradisi seni rupa (visual art) yang terdokumentasi pada masa “purba Nusantara” khususnya –dan masih berlaku di sebagaian masyarakatnya- menggunakan prinsip bahasa rupa Ruang-Waktu-Datar (R-W-D). Gambar merupakan sekuen yang bermantra waktu dan bisa terdiri dari beberapa adegan dengan objek yang bergerak dalam ruang dan waktu. Gambar yang terkadang mempunyai beberapa lapisan latar (layers), yang mana setipa latar memiliki ruang waktu tersendiri. Walau demikian masing-masing terkait dalam kisah yang diungkapkan tanpa menggunakan sekuen kronologis, seperti pada lukisan tradisional Bali. (Bachtiar, 2008:5).
Seni lukis tidak terlepas dari esensi kedokumentasian, karena lukisan justru menjadi dokumentasi tersendiri bagi sebuah zaman tertentu. Seperti lukisan-lukisan pada masa Renaissance, saat perubahan-perubahan besar besar dalam dunia seni lukis –yang menekankan perupaan natural dan perspektifis- yang secara faktual tercermin dalam beberapa karya lukis masa itu yang sesungguhnya merupakan suatu dokumentasi zaman Renaissance itu sendiri. 
Pada zaman Renaissance ini juga merupakan suatu proses terjadinya perubahan besar, yaitu ditemukannya mesin uap yang kemudian melahirkan revolusi industri. Kemudian di zaman industri inilah fotografi muncul sebagai alat pendokumentasian, tentunya dengan teknologi yang sangat sederhana. Namun kreativitas zaman industri sayangnya menjadi pemicu manusia untuk menaklukan bumi dengan mengeksploitasinya sampai batas yang mengkhawatirkan. Puncaknya adalah pada perang dunia ke dua yang melahirkan senjata pemusnah massal. Peristiwa ini akhirnya melahirkan teori-teori sosial pasca PD II yang mengkritisi kreativitas manusia yang menghancurkan bumi sekaligus kehidupannya. Secara bertahap seiring dengan kemajuan teknologi, manusia mencoba mengubah gelombang peradaban manusia dari zaman industri menuju zaman informatika. 
Perubahan zaman yang secara subtansial –mengingat sebenarnya peralihan dari zaman ke zaman tidak bersifat “hitam putih”, sebab hingga kini pun alat masak cobek batu masih banyak digunakan untuk menggiling bumbu dapur oleh manusia zaman informatika yang setiap saat “main” internet dan selalu membawa HP di mana pun berada, yang mungkin tanpa disadari bahwa kita belum dipisahkan dengan zaman batu- zaman industry berkembang menjadi zaman informatika, fotografi berkembang pula secara pararel dengan perkembangan zaman dimaksud. (Bachtiar, 2008: 8). Ketika masa ini, bermunculan beberapa tokoh fotografer, yang memiliki kesadaran untuk mendokumentasikan perubahan sosial dan politik, seperti Alfred Stieglitz, Lewis Hine, Henri Cartier-Bresson, Dorothea Lange, dan John Stanmeyer. Jenis fotografi ini disebut dengan fotografi dokumenter atau documentary photography, Lewis Hine dan James Van DerZee adalah dua pelopor fotografi dokumenter.
Kata dokumenter dalam bahasa Inggris adalah kata yang mengarah pada sesuatu yang nyata, faktual dan realitas. Suatu rekaman visual yang berangkat dari kejadian sebenarnya. Menurut Bill Nichols, dokumenter dimulai dengan orang melihat dan menghargai berbagai image yang dipersembahkan atau menunjukkan masa lalu dari kejadian yang terjadi di dunia. Dokumenter memiliki cakupan dari zona yang sangat kompleks tentang representasi sebagaimana observasi kesenian, ada respons, dan kedengarannya harus dikombinasikan dengan seni untuk memberikan argumentasi. (Purba Negara, 2010: 20). 
Fotografi dokumenter adalah suatu reportase fotografi dari apa yang terjadi di dunia, tidak hanya yang terlihat namun juga dengan suatu cara ‘melihat’. Fotografi dokumenter mengacu pada wilayah di mana gambar fotografi digunakan sebagai dokumen sejarah. Alih-alih berfungsi sebagai sumber kesenangan seni atau estetika, dokumenter fotografi sering digunakan untuk mendorong perubahan sosial politik karena kemampuannya untuk menangkap sifat "kebenaran" dari sebuah gambar ataupun letaknya. Dalam istilah yang sederhana, fotografi sebagai media yang menggunakan gambar sebagai bukti terdokumentasi situasi tertentu.
Foto-foto yang ditampilkan dalam vena fotografi dokumenter cenderung mengejutkan, mengerikan, hidup dan intens untuk membuktikan suatu titik dan membangkitkan emosi pemandang. Beberapa contoh yang paling umum, dokumenter foto-foto yang ditampilkan dalam surat kabar dan majalah modern. Melalui gambar ini, masyarakat mengetahui kebenaran informasi tentang budaya, politik, dan situasi lingkungan. Mengingat fakta ini, tidak mengherankan bahwa fotografi dokumenter meledak menjadi kesadaran Amerika pada masa Depresi Besar 1930-an ketika fotografer yang mendokumentasikan kemiskinan meluas. 
Beberapa fotografer biasanya memiliki suatu cara ‘melihat’ masing-masing dalam menghasilkan karya fotonya. Karya fotografer Amerika Lewis Hine (1874-1940) menyatukan perspektif moral dan keterlibatan sosial untuk sebuah aplikasi media penyadaran dengan fotografi. Khususnya dalam siklus tentang pekerja anak di Amerika Serikat, ia bangkit melampaui jurnalisme bergambar untuk menciptakan model awal bagi foto jurnalistik kemanusiaan. ( http://www.all-art.org/history658_photography13-13.html )
Berbeda dengan Lewis W.Hine, Alfred Stiglitz (1864-1946) tidak menyamakan 'kebenaran' dengan upaya setelah pertentangan internal zaman, masyarakat, atau sistem politik. Bagi Stieglitz, kebenaran tersirat bukan keseimbangan suatu kebenarannya, tetapi suatu keseimbangan batin dalam gambar itu sendiri, dalam kata lain, itu adalah konsep estetika. Namun juga, dia tidak menganggap aspek sosial itu gagal baginya. Dalam karya The Steerage yang memiliki estetika yang tegas dalam komposisi gambarnya ini, telah memunculkan sebuah objektivias baru dalam dunia fotografi. Selain itu dalam karya tersebut menurutnya menampilkan aspek sosial yang terjadi pada penumpang kapal yang terbagi atas beberapa kelas yang mana setiap kelas tersebut dibentuk berdasarkan pada kelas sosialnya. Foto tersebut diambil oleh Stieglitz karena kejenuhan yang melekat dalam suasana bosan dari kelas pertama yang kemudian dia keluar menuju kelas kedua dan ketiga pada perjalanan dengan kapal uap menuju Eropa. ( http://www.all-art.org/history658_photography13-12.html )

Migrant Mother, Nipomo, California
Dorothea Lange (1895 – 1965)
Seiring dengan perkembangan zamannya fotografi dokumenter menjadi suatu media dalam mengkritisi realitas sosial politik yang terjadi di Amerika. Dorothea Lange (1895 – 1965), salah satu dari beberapa fotografer perempuan di Amerika yang Foto-foto karyanya memotret para korban Depresi Besar secara manusiawi dan sangat mempengaruhi perkembangan bidang fotografi dokumenter. Dengan bekal pengetahuan sosial-politik yang diperoleh dari suaminya Paul Schuster Taylor seorang Professor Ekonomi di Universitas California, Berkeley. Dorothea dan Taylor membuat sebuah pendokumentasian mengenai kemiskinan di pedesaan dan eksploitasi petani bagi hasil dan buruh migran. Foto-foto karya Lange yang membuat hati pedih dan merupakan ikon era Depresi Besar di Amerika Serikat. Salah satu foto terbaiknya dari Lange adalah Migrant Mother. Dampak foto tersebut didasarkan pada sosok yang memperlihatkan kekuatan dan permintaan pekerja migran. ( http://web.archive.org/web/20020602103656/http://www.newtimes-slo.com/archives/cov_stories_2002/cov_01172002.html#top ).


Japanese-Americans Children Pledging Allegiance 1942
Dorothea Lange (1895 – 1965)
Kemudian pada tahun 1941, Dorothea memotret peristiwa evakuasi paksa orang Jepang-Amerika ke kamp-kamp relokasi. Bagi sebagian pengamat, foto Lange yang memperlihatkan anak-anak Jepang-Amerika bersumpah setia kepada bendera Amerika Serikat tidak lama sebelum mereka dikirim ke kamp-kamp interniran, mengingatkan kembali pada mimpi buruk kebijakan menahan orang tanpa tuntutan pengadilan dan tanpa kesempatan naik banding. Namun, Foto-foto karya Lange begitu kritis sehingga foto-foto tersebut disita oleh Angkatan Darat. (http://select.nytimes.com/gst/abstract.html?res=F10B12F73554177A93C6A8178BD95F418685F9&scp=4&sq=Dorothea+Lange&st=p )

Selain sebagai media refleksi terhadap realitas sosial-politik, fotografi dokumenter juga mendalami masalah kebudayaan disuatu tempat. Salah satunya adalah John Stanmeyer seorang fotografer adalah salah satu pendiri agensi foto bergengsi, VII. Ia telah bekerja di lebih dari 70 negara, berfokus pada isu sosial, politik, konflik, kesehatan, dan hak asasi manusia. Akhir-akhir ini ia mendalami masalah pelestarian budaya yang tengah mengalami proses pemusnahan. Berawal ketika dia meliput peristiwa tragedi Bom Bali I tahun 2002 yang menyeruak dibenaknya yang teras ada cahaya berbeda yang dia rasakan di Pulau Dewata tersebut. Dan ternyata dari tragedy tersebut, tradisi dan kebudayaan Bali telah menyita perhatiannya. Bersama keluarganya dia menetap ditengah persawahan desa Cangu, Bali. Sepanjang 2003-2008, Stanmeyer melalui hari-harinya dengan mendokumentasikan peristiwa tradisi dan kebudayaan di daerah tersebut, yang kemudian karya fotonya diterbitkan dalam sebuah buku esai foto yang berjudul Island Of The Spirits. Menurutnya kebudayaan di Bali adalah sebuah contoh di mana budaya lokal mampu bertahan di tengah pengeboman, tak hanya bom sungguhan, tapi juga pengeboman kebudayaan Barat. Dan hingga kini mereka masih mempertahankan akarnya.

4.22.2009

KUCING

By: Kanya Sjahrir

Entah sejak kapan kucing itu tergeletak disana mungkin sudah selama yang kuingat. Ribuan kali aku melalui jalan itu dan ribuan kali pula kucing itu setia disana. Ia akan menatap beku pejalan kaki yang melewatinya dengan sorot setajam pisau kristal, hingga apa yang ia alami pada masa-masa akhirnya hanya menjadi misteri pribadi para pejalan kaki yang melewatinya.
Lalu akan ada saat dimana beberapa manusia kecil dengan jiwa besar akan mengiba padanya lalu mencoba mengisyaratkan tunas-tunas nurani mereka kepada sekumpulan orang lalu lalang, tapi orang-orang yang lebih besar hanya lekas-lekas bergegas dari tempat itu. Menghindari apa yang mereka lihat dan akan terjadi apabila terlalu lama dilihat. Manusia-manusia kecil itu pun akhirnya melenggang pergi meninggalkan ibanya pada sang kucing dan tumbuh menjadi bagian dari orang-orang gegas tadi. Yang terkontaminasi dengan baik akan menjadi bagian dari dalang-dalang nomor satu teror kota sementara yang tidak terlalu baik akan menjadi bagian dari kesatuan naas yang hanya dapat membuat hitamnya kota semakin pelak.
Kala lainnya terlihat sekumpulan manusia semi biru yang menempatkan sang kucing sebagai obyek yang menarik; mainan di antara penat kota. Hingga tak heranlah apabila suatu saat akan terlihat kucing itu di ujung jalan dekat lampu merah dan pada saat lainnya ia tergeletak pasrah di bawah siraman hujan di balik pencakar langit berpagar coklat itu. Uniknya, bagaimanapun mereka bermain dengan sang kucing, tak pernah kucing itu beranjak dari jalan besar tua yang dipenuhi dengan kenangan historis ini. Mungkin kucing itu terkenang disana. Di jalan besar yang membelah jantung kota.
“Mengapa dia masih disana?” tanyaku suatu petang pada sahabatku di tengah keramaian jalan raya sambil menunjuk si kucing yang sekarang berada di bawah pencakar langit lainnya. Sebuah pertanyaan retorikal yang hanya dijawab dengan gelengan tak sabar disertai helaan nafas panjang karena sedang mencoba berkonsentrasi pada lautan angkutan yang memenuhi tapak tilas kendaraan bermotornya. Kota metropolitan yang dipenuhi dengan para pencakar langit raksasa serta sepak terjang transportasi memang sarana pembangkit penat yang baik bagi para penghuninya. Penat yang pekat yang lalu melumpuhkan jutaan tunas nurani yang hampir tumbuh di balik atap-atap.
Namun kucing itu masih setia membeku di bawah teriknya matahari tropis dan jutaan orang-orang sengit kota yang melewatinya walaupun bentuk serta aromanya sudah tidak lagi dapat ditolelir. Ia masih berada di boulevard itu, ditemani oleh rentetan derap kaki-kaki yang senantiasa menimbulkan bidu-biduan khas perkotaan. Pekat. Penat. Pelak.
Pernah sekumpulan kucing mendatangi sang kucing yang juga menatap mereka dengan beku, kumpulan itu melintas tak sabar di balik kerumunan orang yang lalu lalang dan terdiam bagai batu saat mendapati sang kucing di hadapan mereka. Kumpulan itu lalu berusaha menyentuh sang kucing dan membangunkannya. Namun sang kucing sudah terlalu lama terbeku disitu, dan semakin lama tubuhnya semakin khayal di makan waktu. Pergilah kumpulan itu menyusuri boulevard dan menghilang di balik pintu petang. Dalam sendu.
Suatu kali seorang manusia setengah baya bergabung bersama orang-orang lainnya melewati jalan tapak itu, ia mengamati sang kucing lalu diambilnya beberapa lembar koran dari balik tas lusuhnya. Hari itu matahari sedang terik-teriknya berpijar dan membuat para penghuni jalan harus melalui sengatan panas, aroma tengik serta pemandangan paling tragis bagi masyarakat kucing. Tak pelak lagi manusia itu perlahan memindahkan tubuh kucing tersebut dan perlahan mengangkat semua bagian sang kucing yang tercecer ke dalam tempat sampah terdekat.
Aku tercekat melihatnya.
Ribuan kali aku melalui boulevard ini, ribuan kali kucing itu terbeku disana, dan ribuan kali aku melihatnya hanya dapat menatap pintu langit dengan pasrah. Tak pernah aku menemui seorang manusia yang dengan dipenuhi nurani membangunkan sang kucing dengan hati-hati bahkan dengan sabar membereskan tetek bengek lainnya.
Rasa penasaran yang merambat akhirnya menuntunku untuk bertanya kepada salah seorang pedagang kaki lima yang bertempat di jalan itu, “Siapakah itu, mengapa ia memindahkan si kucing?” Si pedagang menatapku heran seakan bukanlah hal yang aneh apabila akhirnya sang kucing berpulang pada rumahnya.
“Nenek bongkok itu? Dia mungkin penghuni tertua jalan ini. Mereka memanggilnya kemanusiaan. Tentu saja ia membereskan kucing itu,” lanjutnya sambil membereskan beberapa botol minuman bersoda yang sudah kosong sementara si manusia setengah baya itu sedang menyusuri ujung boulevard lainnya. Dalam deru angan serta penasaran aku pun beranjak dari tempat itu.
Mungkin sebaiknya kutemui langsung saja batinku, namun si pedagang seakan dapat membaca pikiranku dan serta merta menyatakan, “Jangan dekati Mbak, bahaya,” ucapnya kalem sementara mentari tetap menyengat dan asap knalpot semakin pekat dalam sepotong siang.
“Kenapa?” tanyaku spontan berkeberatan tak pernah kutemui pohon nurani berisi diantara kerumunan orang lalu lalang di jalan ini, tak pernah dan entah mengapa deru itu menguat. Aku pun berlari menyebrangi jalan besar itu menuju bayang si nenek yang hampir menghilang di balik tikungan.
“Dia gila, Mbak! Dia gila!!” demikian seruan si pedagang membelah keramaian namun aku telah menjejak si nenek.